Support By :


http://vyzewitch.blogspot.com/

http://vyzewitch.blogspot.com/

Perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat multikultural


A. PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL
Manusia dilahirkan kedunia seorang diri, tetapi kemudian hidup berkelompok dengan keluarganya. Seperti kita ketahui, manusia pertama adam telah ditakdirkan untuk hidup bersama dengan manusia lain yaitu istrinya yang bernama hawa.
Mereka lalu beranak pinak, terbentuklah keluarga, kelompok social, kelompok kekerabatan, masyarakat, bangsa, dan Negara.
1. Proses pembentukan kelompok sosial
Didalam hubungan antara manusia dengan manusia lain, yang paling penting ialah reaksi yang tinbul akibat hubungan-hubungan social tersebut. Reaksi yang timbul itu, menyebabkan tindakan dan tanggapan seseorang menjadi bertambah luas. Misalnya, kalau seseorang mempunyai teman, dia memerlukan reaksi, entah yang berujut pujian atau celaan, yang mendorong munculnya tindakan-tindakn selanjutnya. Sejak dilahirkan, manusia sudah mempunyai hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
a. keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain dalam masyarakat
b. keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.
2. Persyaratan atau factor-faktor pembentukan kelompok social. Terbentuknya kelompok social
memerlukan persyaratan sebagai berikut:
a. setiap anggota kelompok harus menyadari bahwa diri nya merupakan anggota atau bagian dari
kelompok social nya.
b. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya.
c. Ada suatu factor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan di antar mereka bertambah erat.
d. Kelompok itu berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku yang khas.
e. Kelompok itu bersistem dan berproses terus menerus.
B. PERKEMBANGAN KELOMPOK SOSIAL
Kelompok social bukan merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok social selalu mengalami perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok social sifatnya lebih stabil daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami peubahan yang mencolok. Namun, adapula kelompok social yang mengalami perubahan yang cepat, walaupun tidak ada pengaruh dari luar.
1. Perubahan kelompok sosial
Kelompok social umumnya mengalami perubahan akibat proses revolusi karena pengaruh dari luar. Keadaan tidak stabil pada kelompok social dapat terjadi sebagai akibat konplik antar kelompok karena kurangnya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam kelompok tersebut. Ada golongan dalam kelompok social yang ingin merebut kekuasaan dengan mengorbankan golongan lain, atau ada kepentingan tidak seimbang, sehingga timbul ketidak adilan atau perbedaan paham atau pandangan tentang cara mencapai tujuan kelompok. Kesemuanya itu mengakibatkan terjadinya perpecahan didalam kelompok social, sehingga timbul perubahan struktur kelompok social. Timbulnya struktur kelompok sosil yang baru, pada akhirnya bertujuan mencapai keadaan yang seimbang dan stabil.
Prubahan struktur kelompok social dapt pula terjad karena sebab-sebab dari luar. Ancaman dari luar misalnya, sering kali menjadi factor yang mendorong terjadinya perubahan struktur kelompok social. Situasi yang membahayakan yang berasal dari luar akan memperkuat rasa persatuan dan mengurangi keinginan-keinginan untuk mementingkan diri sendiri dari anggota-anggota kelompok social tersebut. Sebab lain, yaitu pergantian pimpinan, stap, atau anggota kelompok social yang tidak sesuai dengan ketantuan yang berlaku.
Menurut max weber, dalam masyarakat multicultural ada beberapa macam kelompok social. Kelompok social yang satu berbeda dari kelompok social yang lain, walaupun mereka termasuk dalam suatu masyarakat yang sama. Max weber mengemukakan bahwa kelompok masyarakat majemuk berkaitan dengan tatanan yang mengikat dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Masyarakat Indonesia tergolong masyarakat multicultural, yaitu masyarakat yang beragam etnis/ suku bangsa, ras, agama, bahasa, adatistiadat, profesi, golongan politik dsb. Kebragaman suku bangsa dan kebudayaan tersebut, tentu saja berpengaruh terhadap system dan struktur social. Karena itu, dalam masyarakat Indonesia terdapat bermacam-macam kelompok social berdasarkan criteria tertentu, seperti kelompok social yang terbentuk karena kepentingan etnis atau suku bangsa, kelompok social kerena kepentingan agama, kerena kepentingan profesi dsb. Perkembangan kelompok social itu terjadi melalui 2 proses, yaitu proses yang bersipat alami dan disengaja.
2. ciri-ciri kelompok social
Menurut sherif kelompok social memiliki ciri-ciri berikut ini.
a. terdapat dorongan atau motif yang sama pada setiap anggota kelompok yang menyebabkan terjadinya interaksi kearah tujuan yang sama.
b. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan dari individu-individu serta reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat didalamnya.
c. Pembentukan penegasan struktur kelompok yang jelas dan terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarki yang lambat laun berkembang dengan sendirinya dalam pencapaian tujuannya.
d. Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma sebagai pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.
Untuk lebih jelasnya, ciri-ciri utama kelompok social akan dijelaskan satu persatu berikut ini.
a. motif-motif yang sama
terbentuknya klompok social itu ialah kerena bakal anggotanya berkumpul untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan kegiatan bersama lebih mudah dapat dicapai daripada atas usaha sendiri. Jadi, dorongan atau motif bersama itu menjadi pengikat dan sebab utama terbentuknya kelompok social. Tanpa motif yang sama antara sejumlah individu, suatu kelompok social yang khas tidak akan terbentuk.
Denan demikian, terbentuk nya kelompok social bergantung pada adanya tujuan atau motif bersam dan keinsyapan akan oerlunya kerja sama untuk mencapai tujuan itu. Dalam perkembangan kelompok social, selain motif timbul pula tujuan-tujuan tambahan, yang mempunyai peran memperkukuh kehidupan kelompoknya. Apabila kehidupan kelompok bertambah kukuh, sense of belongingness pada anggota-anggotanya makin mendalam.
b. Reaksi dn kecakapan berlainan
sheriff menegaskan bahwa situasi social, baik situasi kebersamaan maupun situasi kelompok mempunyai pengaruh berbeda-beda terhadap tingkah laku individu dibandingkan dengan kebiasaan tingkah laku individu itu dalam keadaan sendiri.
Atas dasar perbedaan-perbedaan dalam kemampuan dan kecakapan antar anggota kelompok yang dirangsang oleh situasi social itu, maka terjadilah pembagian tugas yang khas antara anggota-anggotanya sesuai denagn kecakapannya untuk turut merealisasikan tujuan-tujuan kelompok secara kerja sama. Demikain lah lambat laun terjadi struktur kelompok yang khas serta norma-norma dan pedoman-pedoman pelaksanaan kegiatan kelompok.
c. Penegasan struktur kelompok
struktur kelompok adalah suatu system yang cukup tegas mengenai hubungan-hubungan antara anggota-anggota kelompok berdasarkan peranan-peranan dan status-status mereka sesuai dengan sumbangan masing-masing dalam interaksi kelompok menuju tujuannya.
Dasar hierarki kelompok social itu ialah pembagian tugas dan koordinasi antara tugas-tugas tiap anggota, yang berhubungan dengan kecakapan dan sunbangannya dalam mengusahakan tujuan kelompok, termasuk penegasan struktur kelompok, lambat laun tercipta harapan-harapan yang timbal balik antaranggota.
C. EKSPERIMEN DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
Floyd D.Ruch dalam bukunya, Psychologi and life, menegaskan bahwa dinamika kelompok atau (group dynamics) merupakan hasil interaksi yang dinamis diantara individu-individu dalam situasi social.
1. eksperimen pertama
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai dinamika kelompok, dibawah ini akan diuraikan hasil penelitian sherip tentang interaksi dalam kelompok dan interaksi antar kelompok.
a. hipotesis eksperimen
eksperimen yang bertujuan menyelidiki 2 hipotesis berikut ini.
1) apabila individu-individu manusia yang tidak berhubungan antara satu dengan yang lain dikumpulkan pada suatu tempat untuk berinteraksi social dalam kegiata-kegiatan yang menuju ketujuan yang sama, maka akan terbentuk kelompok social dengan struktur nya yang khas dimana akan terdapat kedudukan social yang hierarkis dan peran-peran social tiap-tiap anggota kelompok yang saling berinteraksi social.
2) Apabila dua kelompok telah membuat struktur in-group nya masing-masing, maka akan terbentuk sikap yang negative terhadap kelompok yang menjadi out-group nya dan akan terbentuk streotip prasangka negative terhadap out-group nya.
Kedua hipotesis itu diselidiki kebenarannya oleh sheriff dengan mengadakan eksperimen berikut ini. Eksperimen di lakukan terhadap 24 orang anak lelaki yang berumur 12 tahun. Anak itu tidak saling mengenal dan perbedaan sosoal di antara mereka di hilangkan karena perbedaan itu dapat mempengaruhi jalannya eksperimen.
b. Jalannya eksperimen
eksperimen di rencanakan dalam tiga fase:
1) fase pertama
Direncana kan anak-anak mengadakan hubungan persahabatan berdasarkan kegiatan bersama seperti berenang, olah raga, dst.di harap kan mereka memilih kawan nya sendiri, dalam bermain mereka di beri kebebasan memilih kawan sepermainan sendiri.ini berjalan selama tiga hari.
2) fase kedua
Setelah tiga hari anak bergaul di lakukan pemisahan anak-anak dalam dua kelompok, masing-masing terdiri atas 12 orang.dari pemisahan itu di harap kan terbentuk struktur social sendiri pada masing-masing kelompok sehingga akan terbentuk in-group dan out-group.
3) fase ketiga
Setelah terbentuk dua kelompok yang khas di rencanakan menimbulkan pergeseran dan konflik social di antara kedua nya. Di ciptakan situasi-situasi yang memudah kan timbul nya saling menghambat antara satu dengan yang lain.
c. Hasil eksperimen
hasil eksperimen di peroleh data-data penelitian sebagai berikut:
1) hasil fase pertama
Seperti yang diharapkan, anak-anak dalam fase pertama segera mengadakan interaksi dan mencari kawan sendiri. Terbentuklah secara bebas kelompok-kelompok persahabatan kecil sebagai hasil dari interaksi timbal-balik kearah tujuan bersama itu.
2) hasil fase kedua
Ternyata persahabatan-persahabatan yang terjadi pada akhir fase pertama (persahabatan berdasar kan interaksi dan pemilihan bebas), setelah di pisah kan dan di masuk kan kedalam kedua kelompok yang lebih besar itu, pada akhir fase kedua tidak ada lagi. Anak-anak sekarang cenderung dengan kawan-kawan kelompok A dan B.
3) hasil fase ketiga
Kesimpulan eksperimen sebagai berikut. Hasil eksperimen membuktikan kebenaran hipotesis kedua yang ingin di selidiki dan keseluruhan eksperimen ini berhasil membuktikan kedua hipotesis, yaitu bahwa dinamika kelompok akan menghasilkan struktur dan norma kelompok serta perasaan in-group yang khas, dan bahwa apabila terjadi pergeseran antara dua kelompok yang sudah mempunyai perasaan in-group masing-masing maka akan terbentuk sikap negative dan streotop terhadap out-group nya masing-masing. Telah di simpulkan bahwa untuk mendamai kan dua kelompok yang berkonflik terdapat cara yang efektif:
1. berusaha agar beberapa anggota yang mewakili kedua kelompok itu di satukan dan dipertandingkan dengan suatu kelompok di luar kedua kelompok .
2. berusaha anggota kelompok itu sering bekerja sama.

 

KEANEKARAGAMAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL


A.     Pengertian Multikulturalisme


Ditinjau dari askpek etimologi, multikultural tersusun atas dua kata dasar, yakni multi dan kultur. Multi mempunyai makna keanekaragaman, kebermacam-macaman, sedangkan kultur berarti budaya. Sehingga dari penggabungan dua kata dasar tersebut, diperoleh pengertian secara terminologi yakni prularisme keanekaragaman budaya. Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau kebudayaan sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan.
Sejak dulu, bangsa Indonesia telah akrab dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, bermacam-macam tetapi tetap satu. Dari situlah kita dapat menarik sebuah tafsiran bahwa walaupun komposisi penduduk Indonesia terbentuk dari banyak komunitas dengan berbagai diferensiasi dan stratifikasi di dalamnya, Indonesia tetaplah sebuah negara unitaris yang menjadi atap bagi kesatuan keanekaragaman tersebut.

B.     Pembagian Multikulturalisme di Indonesia

Dalam masyarakat multikultural, keanekaragaman dapat diklasifikasikan dalam aspek-aspek berikut:
1.    Ras
2.    Etnis
3.    Religi
4.    Golongan
5.    Gender
6.    Dan lain sebagainya

C.     Eksplanasi Pembagian Multikulturalisme di Indonesia


1.    Ras
Pengklasifikasian kelompok masyarakat dari aspek ras merupakan suatu bentuk penggolongan manusia berdasarkan ciri-ciri fisik yang sama dan tampak nyata. Secara garis besar, manusia di Indonesia merupakan keturunan dari ras Mongoloid. Namun akibat dari adanya amalgamasi antara ras Mongoloid dengan ras-ras lainnya, maka terbentuklah sub ras-sub ras yang terdistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia. Sub ras-sub ras tersebut antara lain:
      Mongoloid     : Dari kelompok Proto Melayu meliputi Suku Batak, Toraja, Dayak dan sejenisnya. Dari kelompok Deutero Melayu meliputi Suku Jawa, Madura, Bali, Bugis dan sejenisnya.
      Wedoid                     : Meliputi masyarakat Mentawai, Enggano, Tomuna, Sakai, dan masyarakat Kubu.
      Melanesoid                : Meliputi masyarakat Papua dan Aru.
      Negroid                     : Meliputi masyarakat Semang dan Mikopsi.
      Asiatic Mongoloid   : Meliputi masyarakat keturunan Cina.
      Kaukasoid     : Meliputi masyarakat keturunan Arab, Pakistan, India dan Eropa.

2.    Etnis
Kelompok etnis sering disebut sebagai suku bangsa. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang kaya akan kemajemukan budaya. Budaya tersebut merupakan hasil kreatifitas suku bangsa yang berdomisili di Indonesia. Semakin beragam suku bangsa suatu negara akan semakin marak kebudayaan yang dihasilkan. Dalam orientasi interaksi sosial, kelompok etnis mengacu pada identitas kultural yang meliputi bahasa, pola perilaku, dan tradisi.
Hingga kini, para ahli belum mendapatkan titik pasti mengenai kuantitas suku bangsa di Indonesia. Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa di Indonesia antara lain:
1.             Aceh                                        13. Gorontalo
2.             Gayo                                        14. Toraja
3.             Nias dan Batu                           15. Sulawesi Selatan
4.             Minangkabau                            16. Ternate
5.             Mentawai                                 17. Ambon dan Maluku
6.             Sumatera Selatan                      18. Kepulauan Barat Daya
7.             Enggano                                   19. Irian
8.             Melayu                                     20. Timor
9.   $3B          Bangka Belitung                        21. Bali dan Lombok
10.         Kalimantan                               22. Jawa Tengah dan Jawa Timur
11.         Minahasa                                  23. Surakarta dan Yogyakarta
12.         Sangir-Talaud                           24. Jawa Barat

3.    Religi
Di negara Indonesia, mulanya ada 5 agama yang diakui secara resmi. Yakni: Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindhu serta Buddha. Namun, semenjak dimulainya era reformasi, Kong Hu Chu ditambahkan menjadi salah satu agama resmi di Indonesia. Namun selain keenam agama tersebut, masih terdapat banyak agama yang dianut, termasuk agama etnis seperti penganut agama Kaharingan di Kalimantan.

4.    Golongan
Dalam interaksi keseharian masyarakat multikultural, akan ditemui dengan mudah berbagai macam golongan yang tersusun baik secara hierarki strata vertikal maupun secara horizontal. Misalnya: adanya golongan bangsawan ningrat, golongan elit, golongan ‘ulama’, golongan pejabat, bahkan golongan masyarakat pinggiran.

5.    Gender
Secara garis besar, gender terbagi atas laki-laki dan perempuan. Namun, dari dua bagian tersebut akan terbentuk perkumpulan-perkumpulan gender. Misalnya, bagi para perempuan, biasanya terdapat organisasi kewanitaan seperti Dharma Wanita, Muslimat, Fatayat, dan lain sebagainya. Demikian juga dengan laki-laki, biasanya mereka menciptakan sebuah komunitas yang di dalamnya hanya terkomposisi oleh laki-laki saja. Hal tersebut akan menambah volume kemajemukan dalam masyarakat multikultural.

D.    Masalah yang Timbul Akibat Adanya Multikulturalisme Masyarakat

Menurut Clifford Greetz maupun Van de Berghe, setiap masyarakat multikultur akan menimbulkan masalah makro yang cangkupannya pada bangsa dan negara. Di samping itu, dalam mewujudkan integrasi akan ditemui berbagai kendala.
Kendala-kendala tersebut antara lain:
1.      Kendala kultural
      Kuatnya perasaan in-group           : adalah perasaan simpati pada kelompok sendiri
      Etnosentrisme                               :adalah sikap terlalu membanggakan  budaya kelompok sendiri
      Eksklusivisme                               :adalah suatu kecenderunhan menutup diri dari kelompok lain
2.      Kendala struktural
Yakni berupa kesenjangan sosial